Cerita Mudik: Bancala Bandung

Image taken from here
Bandung adalah kota yang sejauh ini paling mungkin untuk memupuk kesepian menjadi ide kreatif yang brilian. Kata Pidi Baiq saja, "Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi." Membandung dan mengairo memang sama-sama mengasyikan. Sama-sama tempat bersejarah, tempat kenangan, mantan, dan harapan mengendap di setiap inci ruangnya.

Beberapa waktu dalam liburan ini saya habiskan di Bandung. Di Baso Boedjangan, Surabi Setiabudi, Batagor Isola, Alun-alun Bandung, foto bareng Valak, Iron Man, dan Pokemon, dan tentunya kembali bernostalgia bagaimana serunya jadi jadi anak kost-kost-an. Setiap aktivitas di Bandung bisa punya cerita dan tulisan sendiri. Satu yang cukup menarik adalah soal Banci Bandung.

Cerita Mudik: Teman Lama

Image result for teman lama
Image taken from here

Jumat sore tanggal 15. Matahari cukup ramah dengan udara yang sejuk. Seorang kawan lama berkunjung ke rumah kami lengkap dengan kedua orang tua dan adiknya. Namanya Reza. Dulu, kami adalah teman sepermainan. Sejak TK sampai tamat SD, kami selalu duduk di kelas yang sama. Lama tak bertemu, nampaknya kami sudah tak lagi suka bertegur sapa, apalagi berbagi kisah. Tinggi kami hampir sama, tapi dia punya janggut yang lebih lebat dari saya.  Keluarga kami berdua memang sudah berkerabat sejak lama, bahkan sejak beta masih dikandung badan. Meskipun tidak ada ikatan darah dan nasab, tapi kami sudah tidak merasa bukan saling siapa-siapa.

Reza baru lulus pendidikan D1 di Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) Bandung. Entah sekarang di mana, katanya sekarang dia bekerja di gedung yang posisinya di belakang Gedung Sate. Mungkin kerjaannya tukang ni-ir sate, tapi gaji bulanannya lebih besar dari tukang ni-ir sate biasa. Kata bapaknya. Lalu seperti pengunjung rumah sebelum-sebelumnya, mereka bertanya soal Mesir, tapi kali ini agak berbeda sudut pandangnya.

Cerita Mudik: Perjalanan Menuju Rumah

Image source from here

Tadinya saya mau beli tiket Oman Air, tapi gak jadi setelah mendengan endorse-annya Ocid. "Jangan, Mang! Itu mah kaya Primajasa terbang!" katanya. Okelah jarak Purwakarta - Bandung naik Primajasa, tapi untuk jarak ribuan kilometer lebih, rada mikir-mikir juga.

Sejak obrolan itu, saya jadi suka googling lamannya Skytrax. Nyari-nyari profil pesawat terbang lengkap dengan fasilitas, makanan, rate, dan testimoni dari para pelanggannya. Dan sesuai dengan hukum pasar, harga gak pernah bohong. Semakin bagus fasilitasnya, semakin mahal harga tiketnya. Pesawat bintang tiga pasti gak sama harganya dengan pesawat bintang di atasnya. Untungnya setelah obrolan dengan Ocid itu, ada promo Qatar Airways yang harganya tetanggaan sama Oman Air. Padahal Qatar ini sederet sama Garuda Indonesia di kelas bintang lima. Ah ini mah rejeki tukang kertas. Gabrug!

Membasmi Tumila Lahir dan Batin

Image taken from here
Waktu di Bandung, saya punya teman yang jarang mandi. Sebut saja namanya Bangkai. Mungkin dia mandi, tapi tidak setiap hari. Kesalahan fatalnya adalah, dia tidak suka pakai parfum, atau deodoran, dan dia suka sok akrab dengan kita sebagai yang terpaksa jadi teman-temannya dengan cara nempel-nempel badan dan menempelkan ketiaknya di pundak kita. Karena hal itulah, teman-teman saya memanggil dia Tumila.

Itulah untuk pertama kalinya saya mendengar istilah tumila/bangsat/kepinding. Sejak lahir sampai tinggal di Bandung, saya benar-benar gak tau tumila itu apa dan bagaimana. Waktu itu saya nanya ke teman soal tumila. Jawabnya, "itu loh kutu kasur," katanya. Jawabannya berhenti sampai di situ, dan kesimpulan saya mengambang pada logika bahwa tumila adalah hewan kasur yang bau dan antiair.

Barulah setelah saya tinggal di Kairo, tepatnya di Pasangrahan Jawa Barat, saya paham tumila itu apa dan bagaimana. Ukurannya, aromanya, sampai pada titik di mana saya paham mengapa dulu eksistensi hewan ini dinisbatkan kepada si Bangkai.

Solusi untuk Korban Tikung: Jomblo Mulia, atau Mati Syahid!

Dalam beberapa kesempatan, ada kalanya hidup ini terasa tidak adil. Alam seakan tidak lagi berpihak tatkala takdir dan harapan datang bukan sebagai kabar bahagia. Padahal, ego dalam diri seolah berteriak bahwa segala perjuangan telah dilakukan, baik itu perjuangan moril maupun materil. Apapun dilakukan untuk sebuah tujuan yang membahagiakan. Mengantar sang pujaan hati pulang ke rumahnya, membelikannya makanan, menyisipkan namanya dalam setiap doa, bahkan selalu berusaha memperbaiki diri demi mendapatkan perhatiannya dan sesuai dengan harapannya. Tapi mengapa keputusan Tuhan tak datang sesuai keinginan?

Image taken from here

Kiranya itulah pertanyaan besar yang selama ini mengganggu pikirannya Hamzah Tsamanud (bukan nama sebenarnya). Kehidupannya penuh perjuagan, namun pengkhianatan dan penikungan genap sudah melengkapi kisah asmaranya. Lalu di mana keadilan itu hadir jika takdir hidupnya adalah harus menjalani hidup sebagai korban pengkhianatan dan penikungan? Saya kira, Hamzah harus bergabung dengan partai politik agar mendapatkan keadilan dan kesejahteraan yang selama ini ia cari.

Membongkar Misteri Emil Nasrullah

"Di Kairo, dua hal yang saya takuti selain Allah adalah: menyeberang jalan dan Emil Nasrullah"
- Bukan Jun Nizami

Entah sampai kapan saya akan mendapat laporan yang "aneh" dari orang-orang soal Emil Nasrullah. "Tuh, Si Emil kalakuanna!" atau "Si eta diparab naon baheulana keur di pasantren?", setidaknya itu dua pertanyaan terakhir yang saya dapatkan belakangan ini. Kenapa harus tanya saya? Saya gak ada hubungan apa-apa sama Emil!

Karenanya saya merasa perlu untuk menuliskan kegelisahan ini agar orang-orang 'korban kalakuan si Emil' tidak usah bertanya-tanya lagi ke saya. Karena saya masih punya banyak pertanyaan dalam hidup yang belum terjawab. Salah satunya pertanyaan teman saya: apa hukumnya pacaran mut'ah?

Nasihat sampah untuk yang suka minta tolong gratisan


Kalian tau kenapa Cutterme tidak nerima orderan selama dua bulan ke depan? Karena saya ingin baca Muqoror. Simpel kan alasannya, tapi malah jadi banyak spekulasi. Kata Mang Nana, karena orderannya terlalu banyak, jadi gak ada waktu untuk orderan baru. Begini Mang, kalau memang banyak orderan, pastinya saya banyak duit. Kira-kira gitu premisnya. Faktanya kagak juga! Buktinya, ini masih nunggu kortingan ampe 90% dari Mevlana Tour buat ke Turki, atau honor dari Akang Cairo berupa Umrah gratis.


Image taken from here
Spekulasi lainnya, karena senimannya sedang dalam masa iddah. Hey hey hey, kontrol! Untuk memulai hidup baru itu tak perlu harus ada momen ngenes dulu. Soal Cutterme ubah logo, itu sama sekali gak ada kaitannya sama faktor historis.

Dengan alasan sederhana itu, saya jadi harus hemat soal pengeluaran mengingat berkurangnya pemasukan. Pengennya sih nunggu kiriman dari rumah, tapi jangankan dapat aliran dana, netes aja seret. Mungkin Bapak saya seriring dengan usianya mulai gak bisa bedain mana tanggal tua dan mana tanggal muda. Buat kita yang muda-muda, angka-angka itu penting banget. Dan karena hemat anggaran, saya jadi sering di rumah, sering mager, dan sering gak bales pesan whatsapp. Anggap aja dua bulan ini sebagai 'me time' yang haram hukumnya bagi siapapun untuk mengganggu, kecuali Pak Cecep.

Interupsi untuk pertanyaan Dek Fatin dalam Dialog bersama Walikota Tri Rismaharini

Assalamualaikum Dek Fatin, semoga ketika surat ini dibaca, kamu dalam keadaan sehat afiat. Amin.

Pertama sebelum membahas interupsi, saya ingin mengoreksi sedikit kesalahan pembawa acara dalam memandu acara Dialog Kebangsaan bersama Walikota Surabaya Tri Rismaharini kemarin (18/03). Dalam acara kemarin, kurang lebih sebanyak empat kali MC bilang "Kepada para hadirin," dan "Kepada seluruh hadirin," tatkala memberitahukan waktu salat magrib dan instruksi untuk kembali ke ruangan karena acara akan segera dimulai. Lema 'hadirin' dalam bahasa kita bagaimanapun punya makna majemuk, jamak. Jadi tak perlu lah menggunakan lagi kata 'para' dan 'seluruh'. Kedua, dalam setiap sambutan kenapa harus waktu dan tempat yang dipersilakan? Kenapa bukan orangnya?

Mempertanyakan Kredibilitas Akun @Pria_Tampan_Masisir

Pada awalnya saya tidak begitu tertarik dengan kehadiran akun @Pria_Tampan_Masisir di Instagram. Sekilas di awal kehadirannya tidak cukup impresif dan 'bermanfaat' di mata saya. Tapi intensitasnya yang cukup narsis menjadi buah bibir tersendiri di kalangan Masisir. Bagaimana bisa dikatakan tidak impresif jika penetrasinya terasa cukup berwarna. Dalam deskripsi singkatnya, dikatakan di sana "Official account yang senantiasa menyuguhkan foto-foto tampan Mahasiswa di Mesir." Sejak membaca itu dan diam-diam mulai mengikutinya, saya mulai mempertanyakan konsepsi tampan yang diusung. Ditampilkan foto-foto Masisir berkulit putih, berwajah oval, berotot menonjol, berjambang, atau sesekali foto-foto bergaya candid. Kehadiran akun-akun media sosial yang mengunggah kerupawanan mahasiswa dan mahasiswi merupakan fenomena baru bagi masyarakat urban. Fenomena yang merebak di banyak kampus ternama, sebut saja @uicantik, @uiganteng, dan @upicantik.

Perempuan sebagai objek memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Ada alasan artistik mengapa rupa perempuan menjadi begitu berasalan untuk diunggah di sosial media, lalu dijadikan konsumsi nalar dengan segala filsafatnya. Tapi bagaimana jika yang menjadi objek itu adalah laki-laki? Nyatanya tak juga jadi masalah jika melihat atensi publik mengenai ketertarikan mereka pada akun-akun jenis ini. Misalnya akun-akun Indonesia Pageants yang banyak tersebar di berbagai wilayah, nyatanya masih tetap eksis dengan banyak pengikut. Maka sebagai premis pertama, mungkin itulah alasan yang melatarbelakangi mengapa akun @Pria_Tampan_Masisir dibuat.