Natiga dalam perspektif ukhuwah rosibiyah dan ngenesiyah

Image result for males skripsi
Image taken from here
























Sejak awal termin dua, saya sudah komitmen untuk tidak lagi mengungkit-ngungkit masa lalu. Begitupun untuk tidak lagi membuka berkas-berkas lama, surat-surat, ataupun puisi-puisi lama. Saya bertekad untuk move on dan ini serius. Tapi tekad ini nyatanya menjadi malapetaka. Tahun ini saya rosib maddah Tarikh dan Nushush. Assudahlah.

Rosib artinya tidak lulus. Saya benci dengan definisi ini. Terkesan tidak intelek dan payah. Lebih setuju dengan istilah I'adah alias mengulang. Kata yang kedua ini deviasi maknanya lebih lembut dan halus. Lebih halus lagi ketika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata 'pendalaman'. Belajar itu harus fokus dan mendalam. Bagi sebagian orang, mempelajari suatu ilmu/mata kuliah tidak cukup hanya dalam kurun satu semester. Karenanya sebagian mahasiswa ada bahkan banyak yang melakukan 'pendalaman'.

Kejadian rosib di maddah beraroma sejarah mengajarkan saya pengalaman berharga bahwa masa lalu bukanlah sesuatu yang harus dilupakan. Mengenang masa lalu ada kalanya dibutuhkan sebagai suplemen hidup dan energi untuk menjalani hari. Makanya, saya jadi rada girang kalau ada acara reunian. Apalagi kalau ada mantan. Disadari atau tidak, ada fase kehidupan yang telah kita, atau saya, lewati dengan banyak sekali pengalaman berkat kehadiran mantan. Mantan itu berharga, jadi saya harus menghormatinya demi lulus di maddah berbau sejarah di termin mendatang.

Makanya liburan kemaren saya melakukan sedikit muroja'ah dengan masa lalu. Bukan karena gagal mup on, celebek, atau yang lainnya, tapi murni demi natigah. Natigah! Natigah!

Kisah studi saya memang banyak tikungannya. Dari sekian banyak tikungan itu, saya jadi termotivasi untuk menjadi penikung yang baik. Penikung yang tidak hanya sembarangan mengambil jalur, tapi banyak bijak sebelum mengambil keputusan. Belajar itu memang harus banyak likunya, panjang waktunya. Kalo kata Imam Syafei mah, wa thuuli zamaanin. Kalau segalanya serba cepat dan pendek, hidup ini gak asik. Sensasi yang menyeduh mie instan dan yang membuat mie instan tentu akan beda. Pengalaman belajar adalah yang utama dibanding hasilnya. Kira-kira begitu kata teori student centered orientation dalam belajar dan pembelajaran yang masih saya ingat. Ya, beginilah hidup. Kuliahku tak semulus pahanya Emil Nashrulloh.

Tapi, rosib dengan alasan kesalahan komitmen nyatanya tidak keren. Saya butuh alasan lain yang lebih bermutu. Misalnya sibuk bikin Cutterme, atau ngerjain kerjaan Atdik, atau KPMJB, atau apalah apalah yang lebih beralasan, selain alasan malas ngafal syair dan tragedi-tragedi. Mau berasalan sibuk ngafal quran dan talaqi, tapi takut disebut riya. Biar gak riya, ya saya gak nyebut-nyebut itu sedikit pun. Tapi alasan-alasan itu gak cukup bernuansa akademik. Jadinya saya nyari-nyari alasan yang logis dan bisa jadi proyeksi bagi para Masisir lainnya.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari momentum rosib. Misalnya, kita jadi punya cara alternatif untuk bahagia. Entah karena perasaan apa, rasanya hidup ini plong tanpa beban. Coba lihat saja teman-teman yang banyak melakukan 'pendalaman', air muka mereka lebih humoris, ceria, tertawa lepas tanpa beban muqoror, dan awet tua. Bahkan setiap kali ketemu dengan Masisir sesama rosibin, kita kaya nemu sodara! Ada Ukhuwah Rosibiyah yang terjalin dan bersatu menjadi semangat baru untuk menatap masa depan yang lebih cerah.

Tadi malam ketika Open House di Pasangrahan, Saya, Robby, dan Fahmy mencoba membujuk Hafiz Sang Habib Palsu untuk mencoba rosib di tahun mendatang. Hidup di Mesir dengan studi empat tahun lancar benar-benar antimainstream. Kamu gak bakalan punya cerita uniknya buat anak cucu. Berbagai motivasi rosib sudah kami berikan tadi malam, barangkali saat ini Hafiz sedang mempertimbangkan dan memperhitungkan tahun depan akan rosib berapa maddah. Kita semua punya paradigma dan persepsi yang sama bahwa orang sukses itu jalan hidupnya berliku, naik turun, jatuh bangun. Kalau Hafiz mau jadi orang sukses, gak cukup hanya daftar kursus Bahasa Inggris dan bercita-cita mau pulang tahun depan demi jadi Liaison Officer di festival internasional. Hafiz harus coba hal-hal baru yang menantang dan sensasional dalam hidup, salah satunya rosib.

Ukhuwah Rosibiyah itu beda-beda tipis sama Ukhuwah Ngenesiyah Baperiyah. Di saat kita bertemu dengan orang-orang korban tikungan, korban harapan, atau orang-orang yang melakukan perpisahan secara sebelah pihak, ada spirit persaudaraan yang terjalin. Seperti saat ketemu Syamsul Bahri tadi malam. Di momen itu juga hadir Ocid, Yuda, dan beberapa korban lainnya. Kalau seandainya ada Utay, wah udah tinggal bawa minyak tanah dan bakar. Meskipun Syamsul baru saja ditinggal nikah dan ditikung sama temen curhatnya, dia tetap bisa tertawa. Kalau kata Teh Yuli mah, gimana sih rasanya kamu nyari duit buat beli beras, dapet beras, dicuci, dimasak, eh udah mateng malah diambil orang? Itu pertanyaan Khobar Istifham yang gak butuh jawaban. Hija'! Hija'!

Permasalahan Syamsul ini sebenarnya merupakan permasalahan klise yang banyak ditemukan Masisir. Satu, soal keberanian. Dua, soal golongan. Kenapa sih kita gak bisa hidup dengan satu jenis Islam saja?? Misalnya saya sebagai orang NU yang cinta akhwat Muhammadiyah jadi suka mikir-mikir kalau mau jatuh hati (kata Raisa, yang benar itu jatuh hati bukan jatuh cinta). Sekalipun poin satu sudah terpenuhi, saya udah berani ngomong nih, eh ada poin dua. Gak semua calon mertua menerima perbedaan ini. Maka wajar jika pernikahan beda agama itu sangat-sangat jadi bahan perdebatan di kalangan ulama, penuntut ilmu, bahkan para komentator di Youtube. Yang sama-sama Islam saja ada aja masalahnya, apalagi beda agama.

Jika diperhatikan secara komprehensif, sebenarnya masalah rosib dan ngenes ini punya mainpoint yang sama. Soal cewek. Semua yang berkaitan dengan cewek memang rumit dan pabeulit. Makanya motivasi hidup kita ini emmang seharusnya bukan karena cewek, tapi karena Tuhan, ibadah! Ibadah! Motivasi 'jangan lupa belajar' 'jangan lupa makan' 'jangan lupa istirahat' dari cewek itu nyatanya gak ada gunanya sama-sekali. Sebodoh-bodohnya kita kan gak mungkin lupa makan, tidur, sama belajar? Yang biasanya kita lupain mah cuma hutang sama lupa temen. Itu aja.

Pada akhirnya saya harus berbesar hati. Sebenernya saya benci rosib. Semua Masisir rosib yang lucu-lucu dan suka ketawa itu juga sebenarnya kamuflase belaka. Mereka dan kita semua hanya ingin menyembunyikan sungai luka yang mengalir di pipi kita aja. Rosib dan ditinggal nikah itu sama-sama menyakitkan. Tapi satu hal yang perlu kita pegang di mana pun dan dalam kondisi apapun: Jangan Lupa Bahagia! Jangan Lupa Cutterme udah open order lagi! Mangprang!


September, 2016.



Cerita Mudik: Bancala Bandung

Image taken from here
Bandung adalah kota yang sejauh ini paling mungkin untuk memupuk kesepian menjadi ide kreatif yang brilian. Kata Pidi Baiq saja, "Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi." Membandung dan mengairo memang sama-sama mengasyikan. Sama-sama tempat bersejarah, tempat kenangan, mantan, dan harapan mengendap di setiap inci ruangnya.

Beberapa waktu dalam liburan ini saya habiskan di Bandung. Di Baso Boedjangan, Surabi Setiabudi, Batagor Isola, Alun-alun Bandung, foto bareng Valak, Iron Man, dan Pokemon, dan tentunya kembali bernostalgia bagaimana serunya jadi jadi anak kost-kost-an. Setiap aktivitas di Bandung bisa punya cerita dan tulisan sendiri. Satu yang cukup menarik adalah soal Banci Bandung.

Cerita Mudik: Teman Lama

Image result for teman lama
Image taken from here

Jumat sore tanggal 15. Matahari cukup ramah dengan udara yang sejuk. Seorang kawan lama berkunjung ke rumah kami lengkap dengan kedua orang tua dan adiknya. Namanya Reza. Dulu, kami adalah teman sepermainan. Sejak TK sampai tamat SD, kami selalu duduk di kelas yang sama. Lama tak bertemu, nampaknya kami sudah tak lagi suka bertegur sapa, apalagi berbagi kisah. Tinggi kami hampir sama, tapi dia punya janggut yang lebih lebat dari saya.  Keluarga kami berdua memang sudah berkerabat sejak lama, bahkan sejak beta masih dikandung badan. Meskipun tidak ada ikatan darah dan nasab, tapi kami sudah tidak merasa bukan saling siapa-siapa.

Reza baru lulus pendidikan D1 di Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) Bandung. Entah sekarang di mana, katanya sekarang dia bekerja di gedung yang posisinya di belakang Gedung Sate. Mungkin kerjaannya tukang ni-ir sate, tapi gaji bulanannya lebih besar dari tukang ni-ir sate biasa. Kata bapaknya. Lalu seperti pengunjung rumah sebelum-sebelumnya, mereka bertanya soal Mesir, tapi kali ini agak berbeda sudut pandangnya.

Cerita Mudik: Perjalanan Menuju Rumah

Image source from here

Tadinya saya mau beli tiket Oman Air, tapi gak jadi setelah mendengan endorse-annya Ocid. "Jangan, Mang! Itu mah kaya Primajasa terbang!" katanya. Okelah jarak Purwakarta - Bandung naik Primajasa, tapi untuk jarak ribuan kilometer lebih, rada mikir-mikir juga.

Sejak obrolan itu, saya jadi suka googling lamannya Skytrax. Nyari-nyari profil pesawat terbang lengkap dengan fasilitas, makanan, rate, dan testimoni dari para pelanggannya. Dan sesuai dengan hukum pasar, harga gak pernah bohong. Semakin bagus fasilitasnya, semakin mahal harga tiketnya. Pesawat bintang tiga pasti gak sama harganya dengan pesawat bintang di atasnya. Untungnya setelah obrolan dengan Ocid itu, ada promo Qatar Airways yang harganya tetanggaan sama Oman Air. Padahal Qatar ini sederet sama Garuda Indonesia di kelas bintang lima. Ah ini mah rejeki tukang kertas. Gabrug!

Membasmi Tumila Lahir dan Batin

Image taken from here
Waktu di Bandung, saya punya teman yang jarang mandi. Sebut saja namanya Bangkai. Mungkin dia mandi, tapi tidak setiap hari. Kesalahan fatalnya adalah, dia tidak suka pakai parfum, atau deodoran, dan dia suka sok akrab dengan kita sebagai yang terpaksa jadi teman-temannya dengan cara nempel-nempel badan dan menempelkan ketiaknya di pundak kita. Karena hal itulah, teman-teman saya memanggil dia Tumila.

Itulah untuk pertama kalinya saya mendengar istilah tumila/bangsat/kepinding. Sejak lahir sampai tinggal di Bandung, saya benar-benar gak tau tumila itu apa dan bagaimana. Waktu itu saya nanya ke teman soal tumila. Jawabnya, "itu loh kutu kasur," katanya. Jawabannya berhenti sampai di situ, dan kesimpulan saya mengambang pada logika bahwa tumila adalah hewan kasur yang bau dan antiair.

Barulah setelah saya tinggal di Kairo, tepatnya di Pasangrahan Jawa Barat, saya paham tumila itu apa dan bagaimana. Ukurannya, aromanya, sampai pada titik di mana saya paham mengapa dulu eksistensi hewan ini dinisbatkan kepada si Bangkai.

Solusi untuk Korban Tikung: Jomblo Mulia, atau Mati Syahid!

Dalam beberapa kesempatan, ada kalanya hidup ini terasa tidak adil. Alam seakan tidak lagi berpihak tatkala takdir dan harapan datang bukan sebagai kabar bahagia. Padahal, ego dalam diri seolah berteriak bahwa segala perjuangan telah dilakukan, baik itu perjuangan moril maupun materil. Apapun dilakukan untuk sebuah tujuan yang membahagiakan. Mengantar sang pujaan hati pulang ke rumahnya, membelikannya makanan, menyisipkan namanya dalam setiap doa, bahkan selalu berusaha memperbaiki diri demi mendapatkan perhatiannya dan sesuai dengan harapannya. Tapi mengapa keputusan Tuhan tak datang sesuai keinginan?

Image taken from here

Kiranya itulah pertanyaan besar yang selama ini mengganggu pikirannya Hamzah Tsamanud (bukan nama sebenarnya). Kehidupannya penuh perjuagan, namun pengkhianatan dan penikungan genap sudah melengkapi kisah asmaranya. Lalu di mana keadilan itu hadir jika takdir hidupnya adalah harus menjalani hidup sebagai korban pengkhianatan dan penikungan? Saya kira, Hamzah harus bergabung dengan partai politik agar mendapatkan keadilan dan kesejahteraan yang selama ini ia cari.

Membongkar Misteri Emil Nasrullah

"Di Kairo, dua hal yang saya takuti selain Allah adalah: menyeberang jalan dan Emil Nasrullah"
- Bukan Jun Nizami

Entah sampai kapan saya akan mendapat laporan yang "aneh" dari orang-orang soal Emil Nasrullah. "Tuh, Si Emil kalakuanna!" atau "Si eta diparab naon baheulana keur di pasantren?", setidaknya itu dua pertanyaan terakhir yang saya dapatkan belakangan ini. Kenapa harus tanya saya? Saya gak ada hubungan apa-apa sama Emil!

Karenanya saya merasa perlu untuk menuliskan kegelisahan ini agar orang-orang 'korban kalakuan si Emil' tidak usah bertanya-tanya lagi ke saya. Karena saya masih punya banyak pertanyaan dalam hidup yang belum terjawab. Salah satunya pertanyaan teman saya: apa hukumnya pacaran mut'ah?

Nasihat sampah untuk yang suka minta tolong gratisan


Kalian tau kenapa Cutterme tidak nerima orderan selama dua bulan ke depan? Karena saya ingin baca Muqoror. Simpel kan alasannya, tapi malah jadi banyak spekulasi. Kata Mang Nana, karena orderannya terlalu banyak, jadi gak ada waktu untuk orderan baru. Begini Mang, kalau memang banyak orderan, pastinya saya banyak duit. Kira-kira gitu premisnya. Faktanya kagak juga! Buktinya, ini masih nunggu kortingan ampe 90% dari Mevlana Tour buat ke Turki, atau honor dari Akang Cairo berupa Umrah gratis.


Image taken from here
Spekulasi lainnya, karena senimannya sedang dalam masa iddah. Hey hey hey, kontrol! Untuk memulai hidup baru itu tak perlu harus ada momen ngenes dulu. Soal Cutterme ubah logo, itu sama sekali gak ada kaitannya sama faktor historis.

Dengan alasan sederhana itu, saya jadi harus hemat soal pengeluaran mengingat berkurangnya pemasukan. Pengennya sih nunggu kiriman dari rumah, tapi jangankan dapat aliran dana, netes aja seret. Mungkin Bapak saya seriring dengan usianya mulai gak bisa bedain mana tanggal tua dan mana tanggal muda. Buat kita yang muda-muda, angka-angka itu penting banget. Dan karena hemat anggaran, saya jadi sering di rumah, sering mager, dan sering gak bales pesan whatsapp. Anggap aja dua bulan ini sebagai 'me time' yang haram hukumnya bagi siapapun untuk mengganggu, kecuali Pak Cecep.

Interupsi untuk pertanyaan Dek Fatin dalam Dialog bersama Walikota Tri Rismaharini

Assalamualaikum Dek Fatin, semoga ketika surat ini dibaca, kamu dalam keadaan sehat afiat. Amin.

Pertama sebelum membahas interupsi, saya ingin mengoreksi sedikit kesalahan pembawa acara dalam memandu acara Dialog Kebangsaan bersama Walikota Surabaya Tri Rismaharini kemarin (18/03). Dalam acara kemarin, kurang lebih sebanyak empat kali MC bilang "Kepada para hadirin," dan "Kepada seluruh hadirin," tatkala memberitahukan waktu salat magrib dan instruksi untuk kembali ke ruangan karena acara akan segera dimulai. Lema 'hadirin' dalam bahasa kita bagaimanapun punya makna majemuk, jamak. Jadi tak perlu lah menggunakan lagi kata 'para' dan 'seluruh'. Kedua, dalam setiap sambutan kenapa harus waktu dan tempat yang dipersilakan? Kenapa bukan orangnya?